06 March 2013

Foto Jembatan Plengkung Untuk Rindu Tulungagung Yang Tak Terbendung


Jembatan Plengkung adalah salah satu penghubung penting jalur transportasi di kota Tulungagung yang sudah berumur panjang. Ia merupakan saksi sejarah banyak kejadian penting di masa lalu hingga sekarang. Fungsinya yang vital terus terjaga hingga kini dan keberadaannya dimanfaatkan setiap waktu oleh masyarakat pengguna transportasi darat yang melewatinya.

Foto yang diabadikan oleh Galih Satria merupakan hiburan tersendiri oleh mereka yang berada cukup jauh dari Tulungagung dan sudah lama tak melewati jembatan tersebut. Bentuk jembatan tergambar jelas, mengingatkan beragam kenangan mereka yang dulu sering melihat dan mengagumi keindahan gaya arsitekturnya. Terdapat tiga lengkung beton yang khas pada bangunan yang disebut pula Jembatan Grobogan, mengacu pada nama dusun dimana jembatan tersebut berada.

Sebagian orang mulai mengingat keberadaan jembatan ini semenjak masih berusia belia, bahkan kanak-kanak. Hal ini dapat dipahami karena jembatan tersebut menurut blog inhibban dibuat pada tahun 1925. Bahan penyusunnya menggunakan besi dan beton, dengan panjang kurang lebih 45 meter dan lebar sekitar 7 meter (belum termasuk tambahan jembatan di sebelahnya). Secara keseluruhan, lebar jembatan ini sekitar 15 meter (sudah termasuk tambahan jembatan di sisi tepinya).

Nah, untuk Anda yang sedang berada jauh dari kampung halaman, masih ingat dengan jelas kan Jembatan Plengkung ini? Moga suatu saat yang dekat dapat kembali menengoknya dan meluapkan rasa rindu Tulungagung yang semakin tak terbendung. Rindu akan suasana kotanya, nikmat lezat makanannya, kehangatan sambutan sanak keluarga tentunya, dan semua hal lainnya...

read more...

15 January 2013

36 Anak Dicabuli Selama Kurun Waktu 2012 di Tulungagung


Jumlah kasus pencabulan anak di Kabupaten Tulungagung Jawa Timur selama kurun tahun 2012, mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Pada tahun 2011 kasus pencabulan 41 kasus dan pada tahun 2012 menjadi 43 kasus.

43 Kasus anak yang pernah mereka tangani Polres Tulungagung tersebut, 36 kasus di antaranya merupakan kasus pidana pencabulan anak, sementara tujuh sisanya merupakan kekerasan fisik.

Kapolres Tulungagung AKBP Whisnu Hermawan Februanto pernah menyampaikan atensinya atas fenomena kekerasan seksual terhadap anak di wilayah tugasnya yang tergolong tinggi.

"Hampir setiap hari ada saja kasus kekerasan seksual terhadap anak. Ini menjadi perhatian serius kepolisian, harus ada tindakan yang tegas dengan hukuman maksimal agar ada efek jera," tandas Kapolres seperti dikutip dari Antara, Senin (14/1).

Berdasar data kepolisian, dari total pencabulan terhadap anak yang terjadi, mayoritas korban berasal dari anak yang ditinggal orang tuanya.

Para pelaku biasanya adalah pacar korban. Kasus pencabulan anak di bawah umur biasanya terungkap setelah diketahui pihak keluarga, atau karena korbannya hamil. Sementara satu kasus lainnya terjadi 'insest' atau persetubuhan sedarah, yakni hubungan seksual oleh orang tua/kakek korban.

Ironisnya, para pelaku pencabulan anak ini biasanya minim pemahaman perlindungan anak. Mereka tidak tahu risiko hukum yang dihadapi, jika sampai melakukan aktivitas seksual dengan anak-anak.

Sementara, Divisi Advokasi Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Tulungagung, Sunarto menekankan proses hukum pada para pelaku. Menurutnya, para pelaku pencabulan harus dibuat jera sehingga tidak lagi membahayakan anak-anak.

"Proses hukum terhadap para pelaku harus ditegakkan. Jangan ada yang dihentikan dengan alasan bukti minim, karena akan menjadi ancaman bagi anak-anak secara umum," kata Sunarto.

Sunarto juga menyepakati, bahwa kunci perlindungan anak dari kejahatan seksual ini adalah pengawasan orang tua. Oleh sebab itu LPA berharap orang tua tidak menitipkan anak-anak ke orang lain, dan memilih untuk mengasuh sendiri dengan arahan yang memang bisa dipertanggungjawabkan.

sumber: merdeka.com | foto: shutterstock
read more...

20 October 2012

Program Listrik Tenaga Surya di Tulungagung Gagal Total

Puluhan rangkaian listrik tenaga surya di di Kecamatan Sendang, Kabupaten Tulungagung rusak total akibat salah perawatan.

Kerusakan paling banyak ditemukan di Dusun Kalimati dan Nyawangan, Desa Tugu, Kecamatan Sendang yang selama ini menjadi proyek percontohan listrik tenaga surya.

Slamet, Ketua RT 02/RW 01 Dukuh Kalimati, Desa Tugu mengatakan, dari total 90-an KK yang mendapat bantuan listrik tenaga surya di daerahnya, hanya beberapa gelintir yang masih bisa difungsikan.

Selebihnya, kata dia, rata-rata mengalami kerusakan dengan sebab bervariasi, mulai karena aki/batere penyimpan energi listrik sudah aus sehingga mesti diganti baru, alat pengubah daya yang tidak berfungsi, jaringan kabel dan lampu putus, hingga modul “solar cell” rusak.

“Warga mau mudahnya, kalau rusak tidak bisa merawat, sehingga sekarang hampir semuanya mati,” terangnya, Jumat (-5/10/2012).

Bantuan listrik tenaga surya di Dusun Kalimati telah diadakan sejak Agustus 2008.

Semua warga/rumah di daerah ini hampir semuanya mendapat bantuan peralatan listrik tenaga surya yang waktu itu pengadaannya difasilitasi pamong desa setempat dan Pemkab Tulungagung.

Selain Dusun Kalimati yang lokasinya terpencil dan berada di balik jurang, puluhan warga di sejumlah pemukiman lain di Kecamatan Sendang juga mendapat program serupa.

Selama dua tahun program bantuan ini berjalan, perangkat listrik tenaga surya milik penduduk tidak ada yang bermasalah. Kerusakan mulai bermunculan setelah memasuki usia tiga tahun.

Menurut keterangan sejumlah penduduk yang mendapat program tersebut, kerusakan paling banyak terjadi pada perangkat aki/batere penyimpan energi listrik.

“Mungkin karena sudah aus dan waktunya ganti, sehingga aki tidak lagi bisa digunakan untuk menyimpan energi listrik. Akibatnya, ya tentu lampu tidak bisa dinyalakan,” tutur Sumiran, tetangga Slamet dikonfirmasi terpisah.

Hal serupa diungkapkan Misni dan Sumari. Rata-rata mereka mengeluhkan kerusakan jaringan listrik, seperti putusnya kabel, lampu mati, hingga perangkat “solar cell” yang tak lagi berfungsi.

Meski sepele, mereka mengaku enggan melakukan perbaikan karena menganggap ongkosnya tinggi.

“Untuk mengganti aki yang rusak kami harus mengeluarkan biaya Rp700 ribu. Itu terlalu mahal untuk warga sini yang rata-rata hanya buruh tani,” jelas Sumiran.

Untuk mengatasi masalah penerangan, selain menggunakan lampu pijar tradisional, saat ini banyak warga yang memilih menyambung listrik dari rumah penduduk di dusun tetangga yang telah terakses jaringan PLN.

Warga rela merogoh kocek lebih banyak karena listrik PLN memiliki daya lebih kuat dan stabil dibanding listrik tenaga surya yang selama ini mereka pakai.

“Listrik tenaga surya paling hanya mampu menyalakan tiga unit lampu neon berdaya 10 watt. Kalau buat menyalakan televisi atau radio tidak kuat, apalagi jika penyimpanan energinya tidak maksimal,” terang Slamet, menambahkan.

Belum ada pihak terkait yang bisa dikonfirmasi mengenai gagalnya program percontohan listrik tenaga surya di Dusun Kalimati maupun Nyawangan tersebut.

Kades Tugu, Tutik, sejauh ini b elum bisa ditemui, sementara Camat Sendang Jonie Kristiawan mengaku kurang mengetahui ihwal penyaluran bantuan listrik tenaga surya tersebut.

“Saya baru tiga bulan menjabat di sini, kurang tahu soal itu,” jawabnya.

lensaindonesia.com
read more...